Berpacu Dengan Algoritma

Siapa sih kita ini ? Sebanyak-banyaknya pengetahuan kita tentang berbagai hal, satu hal yang paling kita tidak kenal adalah diri kita sendiri. Begitu sekilas pikiran yang lewat saat saya berada dalam mesin MRI untuk pemeriksaan abdomen lengkap. Segininya amat pikir saya untuk sekedar mengetahui penyebab rasa sakit luar biasa setiap tamu datang bulan tiba. Setelah dilakukan berbagai pemeriksaan barulah penyebab sakit luar biasa itu dapat diketahui, artinya kita butuh bantuan pihak lain untuk tahu ada apa pada tubuh kita. Ini baru soal mengetahui tubuh, belum lagi mengetahui apa yang ada dalam jiwa kita, sisi spiritual tak kasat mata. Tentu lebih sulit diterawang melalui mesin seperti MRI. 

“Ourselves” dan Keterampilan Abad 21

“Know thyself” begitu kata Socrates, kalimat sederhana namun bermakna dalam. Manusia didapati berusaha keras mengetahui dunia di luar dirinya tapi kadang lupa untuk menggali dirinya sendiri, entah sekedar berkaca atau merenung. Di era revolusi digital kondisi ini semakin rumit, bagaimana mau merenung kalau kita semua dituntut berlari serba cepat. Charlotte Mason (CM) pada bukunya Ourselves seperti mengajak kita untuk berhenti sejenak dan mengenali diri kita lebih intim. Berhenti sejenak, sebuah kemampuan penting abad 21 yang mungkin dianggap sebelah mata. Kita sibuk bersiap diri menambah kemampuan  agar kelak nanti bisa bersaing di bursa kerja Metaverse, sibuk menjejali anak dengan sederet kegiatan akademis yang konon katanya dapat mempersiapkan anak menjawab tantangan abad 21. Tapi mungkin kita lengah mengajak anak menengok dirinya sendiri.

Self-reverence, self-knowledge, self-control, these three are the only way your life can have sovereign power.’ Tennyson

CM membuka buku Ourselves dengan penggambaran jiwa manusia sebagai suatu kerajaan, lengkap dengan Perdana Menteri, sistem pemerintahan, kekayaan alamnya hingga bencana dan bahaya yang mengancam. Dalam sistem pemerintahan kerajaan jiwa manusia, Perdana Menteri sebagai pengambil keputusan adalah kehendak (Will), di bawahnya ada berbagai pejabat lain seperti Managers of The Revenue (Desires), Managers of The Treasury (Affections), Lord Attorney General (Reason), Lord Chief Justice (Conscience) dan yang paling rendah jabatannya adalah Assistants of The Body (Appetites). 

Tentang Nafsu

Berada di paling bawah dalam sistem pemerintahan, asisten tubuh berupa nafsu mungkin bagian yang paling mudah untuk dikenali oleh manusia. Bagian yang menjadi kebutuhan dasar manusia seperti rasa lapar, haus, lelah. CM juga menjelaskan bagaimana setiap rasa itu bisa bermanfaat bagi tubuh namun juga dapat membawa dampak buruk bagi manusia. Rasa lelah bisa menjadi baik saat tubuh kita membutuhkan istirahat, namun istirahat terlalu banyak juga dapat menyesatkan jiwa manusia. Begitu juga dengan rasa lapar yang bermanfaat bagi tubuh manusia untuk mengisinya dengan makanan, namun bisa berdampak buruk jika nafsu makan bisa berujung pada kerakusan. Sekarang pernahkah kita berhenti untuk sekedar bertanya saat kehendak kita memutuskan membeli makanan ? Benarkah makanan ini saya beli karena saya lapar ? karena saya tergoda diskon ? karena untuk memecah kebosanan ?. Mungkin pernah, mungkin juga lupa. Tanpa mengetahui bahwa dalam setiap gerakan keputusan kita selalu ada bahaya dan manfaat mungkin seringkali kita melakukan berbagai hal secara otomatis. Tidak heran kita mudah sekali tergoda iklan yang memang ditujukan untuk menggoda nafsu dan ketakutan kita. Tidak heran kalau saya lemah melihat diskon kuliner, padahal belum tentu makanan atau minuman itu memang dibutuhkan oleh tubuh saya, seperti es kopi susu gula aren misalnya. Entah berapa gelas sudah saya habiskan di tahun 2021 ini sebelum akhirnya saya memutuskan berhenti minum kopi. Anak-anak juga seperti itu, ditambah terpaan godaan cemilan kemasan di minimarket terdekat. Butuh aksi sengaja untuk membantu kami pelan-pelan berhenti dan bertanya kembali pada keputusan paling sederhana sekalipun seperti membeli makanan, dari makanan kita bisa belajar mengenali tubuh kita. 

Bersama Anak Mengenali Diri

Beruntung sekali saya mendapat anugerah bisa menjalani homeschooling bersama anak-anak, suatu perjalanan yang sebenarnya menjadi jalan ninjaku atau perjalanan spiritual bagi saya. Setiap hal yang kami pelajari rasanya lebih dari sekedar pencapaian akademis khas sekolah. Saya membaca buku Ourselves bersama teman-teman Charlotte Mason Jakarta  dan mendapati diri saya banyak tertampar, namun rasanya nikmat karena saya seperti mempunyai bekal untuk mengajak anak-anak pelan-pelan mengenali diri mereka. 

Momen-momen pembelajaran kami bukan momen duduk menghadap papan tulis, mendengarkan ceramah. Momen pembelajaran kami adalah pertengkaran, diskusi, tangis, tawa, kegembiraan, cemburu, resah, lelah. Semuanya kami jadikan momen mengenali diri kami masing-masing. Seringkali pertanyaan muncul dari orang sekitar menanyakan hasil seperti “Sudah bisa apa saja setelah homeschooling ?”. Jawaban saya, “Hmm saya juga bingung ya?” Bagaimana saya bisa gegabah ingin melihat hasil instan ? ini adalah perjalanan seumur hidup, hasilnya entah bisa terlihat 10-20-30 tahun lagi atau nanti saat kematian memisahkan. Yang jelas kami menikmati proses, namun saya cukup tahu bahwa manusia seringkali luput melihat proses, manusia lebih mudah melihat hasil. Semoga Tuhan bisa melihat proses kami dan entah apa yang akan diberikan Tuhan sebagai hasilnya. 

2022 Kami Datang

Ourselves is a Vast Country Still Unexplored” Charlotte Mason Vol.4, halaman 34

Tentunya masih luas sekali kerajaan jiwa manusia saya pribadi yang belum dieksplorasi, apakah memang itu pekerjaan jiwa manusia ? terus mencari. Mana tahu di kedalaman dan keluasan jiwa manusia di situlah letak Tuhan. Membuka tahun baru, semoga kita tidak lupa akan pekerjaan rumah kita untuk mengenali diri dan menjadikan PR ini sebagai salah satu materi pendidikan kita. Bukan berarti menitikberatkan pada kemampuan terkait profesi abad 21 tidak penting, tapi apalah artinya sederet profesi itu kalau kita jauh dengan diri kita sendiri, atau lebih buruknya lagi kita tidak bisa mengontrol diri kita sendiri. Semoga kita bisa lebih mengenal diri kita dan tak kalah berpacu dengan algoritma Zuckerberg. Amin. 

Ditulis sebagai rangkuman narasi sinau buku Ourselves bersama teman-teman Charlotte Mason Jakarta @cmidjakarta

Pendidikan Adalah Keyakinan

Mencari pendidikan alternatif sudah saya lakukan sejak terpapar oleh Totto-Chan. Saking putus asa, saya sempat berpikir apa perlu nih saya masukin anak saya ke Summerhill (A.S Neill) atau sekolah swasta dengan tuition fee setara MM-UI. Namun setelah riset berkepanjangan, juga menimbang masalah biaya, saya pun nyerah. Mungkin memang pendidikan yang saya idam-idamkan itu hanyalah utopia belaka. Sehingga, pergulatan batin pun berakhir dengan kepasrahan dan memasukan Kakak ke sekolahnya hanya dengan pertimbangan jaraknya dekat dari rumah hahaha. Saya pikir pusing-pusing amat lah mikir cari sekolah ideal, lah emang menurut saya semua sama aja, gitu-gitu aja. “Gitu-gitu aja” yang saya maksud adalah dari zaman saya sekolah sampai sekarang ya tidak terlalu banyak perubahan berarti dalam dunia pendidikan, khususnya di Indonesia.

Sampai pada suatu ketika turning point itu hadir, saat beragam masalah saya hadapi terkait perilaku, minat belajar dan minat baca Kakak. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk mengeluarkan Kakak dari sekolah dan menjadi praktisi homeschooling. Beruntung sekali saat akhirnya berani mengambil jalur pendidikan yang non-mainstream ini membawa saya pada sosok Charlotte Mason (CM).

Gara-gara CM saya jadi terbawa untuk berpikir ulang tentang pendidikan, apa sih pendidikan itu ? Nah lho..!!. Jerman pada masa Perang Dunia menjadikan pendidikan bersifat utilitarian, bahasa kerennya azas manfaat hehe, ya kalo lo gak bisa dipake untuk jadi buruh pabrik, bikin senjata atau jadi tentara, yaudah BYE !! . Ini berhubungan nih sama ucapan yang sering kita dengar “Sekolah yang pintar ya supaya bisa cari duit”, Marxis banget dah..haha, apa iya itu tujuan pendidikan ? mengejar materi ?. Menurut CM “Pendidikan haruslah menyentuh jiwa agar para siswa meminatinya” Bah!! apa pula itu korelasi antara jiwa dan pendidikan?. Jawaban dari pertanyaan ini dikembalikan lagi ke kredo utama pendidikan CM yaitu “Anak adalah pribadi utuh”.  CM menilai anak-anak sering dikecilkan dengan memberikan mereka bubur padahal mereka sebenarnya mampu mencerna nasi. Bahwa buku-buku yang tersaji di sekolah sudah dicerna sebelumnya oleh orang dewasa, sehingga anak-anak hanya mendapat sisa lepehan saja pada buku teks. Absennya ide-ide pada buku teks dan materi belajar anak, telah membuat jiwa anak-anak lapar, budi mereka kesepian. Pastinya bukan ini yang CM mau, untuk apa bergelimang materi dan terkenal kalau budi seseorang menjadi kering, kosong atau bahkan mati.

Lalu, bagaimana membuat budi menjadi hidup dan tumbuh sehat ? untuk hal ini CM menawarkan tidak lain dan tidak bukan….eng ing eng ternyata gak jauh-jauh dari kehidupan saya, BUKU. Buku hidup atau Living Books dengan bahasa sastra yang ditulis tanpa merendahkan anak menurut CM dapat menjadi makanan bagi budi anak. Sama seperti tubuh yang membutuhkan makanan sehat, begitu pula dengan budi asupannya harus sehat. Saat anak melakukan perjamuan ide dengan buku-buku berkualitas, saat itulah budi anak tergugah, pikirannya menari-nari. Apakah dengan begini anak-anak dijamin dapat mengerti dan langsung meresapi karya Orwell ? Harper Lee ? . Tenang sis, CM senang sekali dengan yang namanya proses panjang, baby steps yang perlahan tapi tekun.

Dalam mengasah kemampuan literasi, CM mengajak anak-anak untuk menarasikan bacaannya dengan bahasa mereka sendiri. Orangtua atau guru sebagai fasilitator diharapkan tidak melakukan intervensi terlalu banyak dengan mengajukan pertanyaan komprehensif pada anak. Biarkan saja anak-anak mengolah sendiri bacaan mereka, tugas kita adalah menyajikan sebanyak-banyaknya buku berkualitas. Serta sebuah keyakinan besar bahwa kita percaya mereka bisa mencerna ide-ide besar itu secara mandiri, sama seperti kita percaya tubuh anak dapat mencerna sendiri apa yang mereka makan. Secara bertahap kenalkan bacaan berkualitas pada anak, ikuti kemampuannya, jika terlalu sulit turunkan, jika anak sudah mahir naikkan. Percaya bahwa anak adalah pribadi utuh, percaya bahwa mereka bukan makhluk bodoh dan saat kita merasa ragu ingatlah apa kata CM bahwa education is faith, pendidikan adalah keyakinan.

**Tulisan ini adalah bagian dari narasi perjamuan ide bersama para ibu CMers Jakarta. Difasilitasi oleh Mba Ayu Primadini, selama satu bulan ini kami membahas Bab 1 Self Education  dari Vol.6 Towards a Philosophy of Education